Senin, 01 Januari 2024

Kepemimpinan Situasional

 

Nama                                    : Amanda Tiara Prameswari

Nim                                       : 236120900050

Dosen Pengampu                 : Bpk.Tofan Tri Nugroho,S.E.,M.M.

Prodi                                     : Bisnis Digital

Fakultas                               : Bisnis,Hukum dan Ilmu Sosial

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo


     KEPEMIMPINAN SITUASIONAL


    Teori yang menyatakan bahwa kepemimpinan yang sukses bergantung pada pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat yang bergantung pada kesiapan para pengikut/bawahan. Seorang pemimpin harus memilih salah satu dari gaya-gaya kepemimpinan situasional tergantung pada kesiapan pengikut/bawahan berdasarkan pengalaman. SLT memiliki daya tarik intuitif. 

    Teori ini mengakui pentingnya pengikut dan dibangun di atas logika bahwa para pemimpin dapat beradaptasi dengan kesiapan pengikutnya untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu.




1.Telling/Directing (digunakan ketika pengikut/bawahan tidak cukup kompeten, tetapi berkomitmen untuk melakukan tugas). 

    Pemimpin memberikan arahan yang jelas dan spesifik tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya.

Contoh: Atasan memberikan karyawannya tugas dengan arahan yang jelas dan terperinci agar karyawan tersebut dapat mengejar target yang telah ditentukan oleh perusahaan.

2.Selling/Coaching (digunakan ketika para pengikut/bawahan telah menunjukkan kemampuan namun belum cukup berkomitmen atau termotivasi untuk melakukan tugas mereka patah semangat karena mereka menyadari betapa jauhnya mereka harus melangkah). 

    Pemimpin harus terus memberikan arahan yang jelas dan spesifik tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya, namun juga harus memberikan dukungan, umpan balik sosio-emosional, dan semangat, serta meyakinkan karyawan bahwa tugas tersebut bermanfaat.

Contoh: Seorang karyawan diberi atasan sebuah tanggungjawab yaitu proyek padahal karyawan tersebut fresh graduate. Proyeknya berjalan lancar namun kurang sempurna sehingga dia patah semangat. Sang atasan memberi motivasi agar kedepannya dia lebih bertanggungjawab dengan tugasnya.

3.Participating/Supporting (digunakan ketika pengikut/bawahan kompeten namun memiliki komitmen yang bervariasi untuk melakukan tugas mereka khawatir akan tanggung jawab tambahan atau merasa tidak aman). 

    Dengan kompetensi yang dimiliki karyawan dalam mengerjakan tugas, pemimpin harus mengambil langkah mundur dan tidak lagi bersikap direktif tetapi harus terus mendukung dan memberikan dorongan.

Contoh: Seorang karyawan tidak perlu diberi arahan sang atasan karena dia kompeten dalam menyelesaikan proyek dengan baik, namun atasan harus tetap memberi dukungan seperti memberi fee atas keberhasilan proyeknya.

4.Delegating (digunakan ketika pengikut/bawahan sudah kompeten dan berkomitmen untuk melakukan tugas). Karyawan sekarang sudah sepenuhnya mampu dan berkomitmen pada tugas tersebut nereka sekarang dapat didelegasikan tugas dan dibiarkan sendiri untuk menyelesaikannya.

Contoh: Karyawan yang sudah bertahun-tahun bekerja di suatu perusahaan tidak perlu diberi arahan dikarenakan dia sudah mengerti tugas-tugas yang diberikan.

Kepemimpinan Transformasional

 

Nama                                    : Amanda Tiara Prameswari

Nim                                       : 236120900050

Dosen Pengampu                 : Bpk.Tofan Tri Nugroho,S.E.,M.M.

Prodi                                     : Bisnis Digital

Fakultas                               : Bisnis,Hukum dan Ilmu Sosial

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo


KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL

Kepemimpinan Transformasional adalah gaya kepemimpinan yang berfokus pada menginspirasi dan memotivasi anggota tim untuk mencapai potensi terbaik mereka dan mencapai tujuan yang lebih tinggi.

    Pemimpin transformasional dapat memberikan dampak yang luar biasa pada pengikutnya. Terdapat bukti bahwa keterlibatan pemimpin dalam perilaku transformasional sangat bergantung pada budaya dan industry. Ada 2 versus tentang kepemimpinan :

1.   Kepemimpinan Transformasional VS Karismatik

        Pemimpin karismatik adalah mereka yang menyampaikan pesan berdasarkan nilai dan berkomunikasi melaluinya sarana simbolik dan sarat emosi. Kepemimpinan karismatik lebih menekankan pada cara pemimpin berkomunikasi (apakah mereka bersemangat dan dinamis).

        Sedangkan kepemimpinan transformasional lebih fokus pada apa yang mereka komunikasikan. intinya, keduanya berfokus pada kemampuan pemimpin untuk menginspirasi pengikutnya.

2.   Kepemimpinan Transformasional VS Transaksional 

        Kepemimpinan transaksional dan transformasional mereka itu saling melengkapi, mereka tidak menentang pendekatan untuk menyelesaikan sesuatu. Kepemimpinan transformasional dibangun di atas kepemimpinan transaksional dan menghasilkan tingkat upaya dan kinerja pengikut melebihi apa yang dapat dilakukan oleh kepemimpinan transaksional saja. Meskipun keduanya cenderung penting, nampaknya kepemimpinan transformasional lebih penting untuk kinerja kelompok,dan kepuasan terhadap pemimpin,        

             Sedangkan kepemimpinan transaksional (terutama imbalan kontingen) lebih penting untuk efektivitas pemimpin, kinerja pengikut, dan kepuasan kerja pengikut. 

Kepemimpinan transformasional sangat efektif dan hebat, karna memiliki 5 metode, yaitu:

a.   Mekanisme Afektif atau Sikap: 

        Pendekatan transformasional mendorong suasana hati, emosi, kepuasan kerja, komitmen organisasi, dan perasaan sejahtera karyawan yang positif.

b.   Mekanisme Motivasi:

        Pendekatan transformasional memotivasi karyawan, mereka menjadi lebih percaya diri dan terlibat serta lebih bersedia meluangkan waktu dan tenaga.

c.   Mekanisme Identifikasi: 

        Pendekatan transformasional mengarahkan karyawan untuk mengidentifikasi secara pribadi dengan pemimpin dan nilai-nilai serta identitas pemimpin serta tim atau organisasi.

d.   Mekanisme pertukaran sosial: 

        Pendekatan transformasional meningkatkan kualitas pertukaran dan hubungan antara pemimpin dan pengikut, Pengikut juga lebih mungkin merasa bahwa mereka didukung oleh pemimpin, tim, dan/atau organisasi.

e.   Mekanisme peningkatan keadilan: 

        Pendekatan transformasional meningkatkan presepsi keadilan karyawan, memotivasi pengikut untuk berkontribusi lebih banyak dan lebih mempercayai pemimpin, tim, dan organisasi.

    Perilaku kepemimpinan transformasional dapat ditafsirkan sebagai manipulatif dan memberikan kekuasaan secara berlebihan kepada orang-orang yang inspiratif. Selain itu, kepemimpinan transformasional tidaklah “semudah” seperti tidak melakukan apa pun atau memimpin dengan cara yang lebih pasif. Kepemimpinan seperti ini dapat berdampak buruk pada para pemimpin, menyebabkan mereka menjadi lelah secara emosional dan meninggalkan posisi kepemimpinan mereka.

    Teori Kepemimpinan Transformasional dapat mengambil manfaat dari pemahaman dimensi mana yang paling penting, bagaimana tepatnya dimensi - dimensi tersebut digabungkan untuk membentuk kepemimpinan transformasional, dan bagaimana dimensidimensi kepemimpinan transformasional memberikan hasil yang berbeda-beda.

Contoh kepemimpinan transformasional yang terkenal dalam berbagai bidang, seperti:

1. Steve Jobs (pendiri Apple): 

Steve Jobs adalah contoh kepemimpinan transformasional dalam dunia teknologi. Dia menciptakan visi yang kuat untuk perusahaan Apple dan menginspirasi timnya untuk berinovasi dan menciptakan produk-produk revolusioner seperti iPhone dan iPad.

2. Nelson Mandela (mantan Presiden Afrika Selatan): 

Nelson Mandela adalah contoh kepemimpinan transformasional dalam bidang politik. Dia memiliki visi yang kuat untuk mencapai persatuan dan rekonsiliasi di Afrika Selatan setelah era apartheid. Dia memotivasi orang-orang untuk bekerja sama dan mencapai perdamaian.

3. Elon Musk (CEO Tesla dan SpaceX): 

Elon Musk adalah contoh kepemimpinan transformasional dalam industri teknologi dan transportasi. Dia memiliki visi yang besar untuk mengubah dunia dengan mobil listrik dan eksplorasi luar angkasa. Dia memotivasi timnya untuk berinovasi dan mencapai tujuan yang tampaknya tidak mungkin.


Kepemimpinan dan Gaya Kepemimpinan


Nama                                    : Amanda Tiara Prameswari

Nim                                       : 236120900050

Dosen Pengampu                 : Bpk.Tofan Tri Nugroho,S.E.,M.M.

Prodi                                     : Bisnis Digital

Fakultas                               : Bisnis,Hukum dan Ilmu Sosial

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo


KEPEMIMPINAN

 

Definisi Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah kemampuan untuk memengaruhi suatu kelompok

menuju pencapaian sebuah visi atau tujuan yang di tetapkan.

 
Teori - Teori Kepemimpinan

 

1.Teori Sifat (Traits Theories) 

Teori yang mempertimbangkan kualitas pribadi dan karakteristik yang membedakan para pemimpin dari yang bukan pemimpin. Teori sifat kepemimpinan berfokus pada kualitas pribadi termasuk sifat  dan karakteristik personal. 

 

                Karakteristik kepribadian 

                ·Sifat-sifat pribadi

                 Emosional, fisik, intelektual individu, kewaspadaan, kepercayaan diri, integritas pribadi.

                ·Sifat-sifat yang efektif 

                 Kecerdasan emosional, pemikiran analisis yang tinggi, visi yang efektif, pasokan gagasan cerdas yang tiada habisnya.

 

2.Teori Perilaku (Behavioral Theories)

Teori yang mengusulkan bahwa perilaku tertentu membedakan pemimpin dan bukan pemimpin. Teori sifat memberikan dasar untuk memilih orang yang tepat untuk menjadi pemimpin. Sebaliknya, teori-teori perilaku kepemimpinan menyiratkan bahwa kita dapat melatih orang untuk menjadi pemimpin. Hal ini meliputi perilaku seorang pemimpin yang berupaya untuk mengorganisasi kerja, hubungan kerja dan tujuan.


 3.Teori kontingensi (Contingency Theories)

Model kontingensi Fiedler menyatakan bahwa kinerja kelompok yang efektif bergantung pada kecocokan yang tepat diantara gaya pemimpin dan seberapa besar situasi memberikan kendali pada pemimpin.

 

Berkenaan dengan situasi, kita dapat menilainya dalam tiga kemungkinan atau dimensi situasional:

·        Hubungan pemimpin-anggota adalah tingkat keyakinan, kepercayaan, dan rasa hormat yang dimiliki oleh para anggota terhadap pemimpin mereka.

·        Struktur tugas adalah sejauh mana penugasan pekerjaan diatur (yaitu, terstruktur atau tidak terstruktur).

·        Kekuasaan posisi adalah tingkat pengaruh yang dimiliki seorang pemimpin terhadap variabel-variabel kekuasaan seperti perekrutan, pemecatan, disiplin, promosi, dan kenaikan gaji.

 

4.Teori Kepemimpinan Situasional [SLT] (Situtional Leadership Theory)

Yaitu Sebuah teori kontingensi yang menyarankan gaya kepemimpinan yang tepat tergantung pada kesiapan pengikut (misalnya, kemauan dan kompetensi) untuk menyelesaikan tugas tertentu. Teori kontingensi ini menitikberatkan pada kesiapan dari karyawan/anggotanya.

 

5.Teori Pertukaran Pemimpin Anggota (Leader-member Exchange Theory)

Ini adalah suatu teori yang mendukung penciptaan para pemimpin di dalam kelompok dan diluar kelompok.


Sebuah teori yang menyatakan bahwa:

·        Pemimpin dan pengikut memiliki hubungan unik yang bervariasi dalam kualitas.

·        Para pengikut ini terdiri dari ingroup dan outgroup; bawahan bawahan dengan status in group kemungkinan akan memiliki peringkat kinerja yang lebih tinggi, lebih sedikit perputaran, dan kepuasan kerja yang lebih besar.

 

Teori Jalur-Tujuan

    Yaitu teori yang menyatakan bahwa tugas dari pemimpin untuk membantu para pengikut dalam memperoleh tujuan-tujuan mereka dan untuk menyediakan pengarahan dan atau dukungan untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan mereka sesuai dengan keseluruhan tujuan dari kelompok atau organisasi. 

 

Teori Kontingensi Pengikut (Follower Contingency Theories)

    Teori kontingensi terakhir yang berkaitan dengan peran yang dimainkan oleh pengikut. Sebagaimana Seperti yang dikatakan oleh seorang ahli kepemimpinan, "Pemimpin tidak ada dalam ruang hampa"; kepemimpinan kepemimpinan adalah hubungan simbiosis antara pemimpin dan pengikut.

 

Model Partisipasi Pemimpin 

    Sebuah teori yang menyarankan para pemimpin harus menentukan sejauh mana masalah kepemimpinan melibatkan partisipasi dan tanggung jawab bersama dengan pengikut (dan menyesuaikannya).

 

Teori Kepemimpinan Bersama

    Sebuah teori yang menunjukkan bahwa kepemimpinan dapat menjadi keadaan yang muncul di mana peran kepemimpinan didistribusikan ke seluruh pengikut dan semuanya mampu mempengaruhi satu sama lain.


 

Gaya Kepemimpinan


·        Berpartisipasi/mendukung (digunakan ketika pengikut kompeten tetapi memiliki komitmen yang bervariasi untuk melakukan tugas, mereka khawatir akan adanya respon tambahan atau merasa tidak aman).

Menjual/melatih (digunakan ketika pengikut telah menunjukkan beberapa kompetensi tetapi tidak cukup berkomitmen atau termotivasi untuk melakukan tugas-mereka patah semangat karena mereka menyadari seberapa jauh mereka harus melangkah).

Memberitahu/mengarahkan (digunakan ketika pengikut tidak cukup kompeten, tetapi berkomitmen untuk melakukan tugas). 

Mendelegasikan (digunakan ketika pengikut kompeten dan berkomitmen untuk melakukan tugas).



Kepemimpinan Karismatik


    Sebuah teori kepemimpinan yang menyatakan bahwa para pengikut membuat atribusi kepahlawanan atau kemampuan kepemimpinan yang luar biasa kemampuan kepemimpinan ketika mereka mengamati perilaku tertentu (misalnya, perilaku yang digerakkan oleh nilai-nilai, simbolis, atau emosional).

 

Kepemimpinan Otentik


    Gaya kepemimpinan di mana para di mana para pemimpin "tahu siapa mereka" (yaitu, kesadaran diri), dan terikat oleh misi mereka, mempertimbangkan pendapat orang lain dan semua informasi yang relevan sebelum bertindak, dan menampilkan diri mereka yang diri mereka yang sebenarnya ketika berinteraksi dengan karyawan.

 

Kepemimpinan Laissez-faire


    Gaya kepemimpinan yang melibatkan pengunduran diri secara pasif dan penghindaran dari tanggung jawab kepemimpinan.

 

Kepemimpinan Transaksional


    Pemimpin yang membimbing atau memotivasi para pengikut mereka ke arah tujuan yang telah ditetapkan dengan mengklarifikasi peran dan persyaratan tugas, mengalokasikan imbalan dan hukuman jika diperlukan, dan (secara pasif atau aktif) melakukan intervensi ketika situasi membutuhkannya.

 

Kepemimpinan Tranformasional 


    Pemimpin yang menginspirasi para pengikutnya untuk melampaui kepentingan diri mereka sendiri demi kebaikan organisasi.

 

Kepemimpinan yang Tidak Etis 


    Gagasan bahwa para pemimpin berperan sebagai panutan etis bagi para pengikutnya dan dengan demikian menunjukkan perilaku yang sesuai (atau tidak pantas) dengan menggunakan kekuasaan mereka dengan cara-cara yang (tidak) etis dan/atau memperlakukan orang lain secara adil (atau tidak adil).

 

Kepemimpinan Pelayan


    Sebuah gaya kepemimpinan yang ditandai dengan melampaui kepentingan pemimpin kepentingan pribadi pemimpin dan sebagai gantinya berfokus pada kesempatan untuk membantu para pengikut tumbuh dan berkembang. 

 

Pelayanan yang Kasar


    Pengawasan yang tidak bersahabat baik secara verbal maupun non-verbal.


 

Mengembangkan Keterampilan Kepemimpinan





   




Untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, Anda bisa mempertimbangkan untuk:


1.Pendidikan dan Pelatihan:

    Ikuti kursus atau pelatihan kepemimpinan untuk memahami konsep dan teknik kepemimpinan.


2.Mentorship:

    Cari mentor yang memiliki pengalaman dalam kepemimpinan untuk mendapatkan pandangan dan nasihat langsung.


3.Pengalaman Praktis:

    Ambil inisiatif dalam proyek atau tanggung jawab yang memungkinkan Anda mempraktikkan dan mengasah keterampilan kepemimpinan.


4.Feedback:

    Terima dan gunakan umpan balik dari rekan kerja atau bawahan untuk terus meningkatkan diri.


5.Studi Kasus:

    Pelajari kisah sukses dan kegagalan pemimpin terkenal untuk memahami strategi dan pelajaran yang dapat diterapkan.


6.Pemahaman Tim:

    Kenali kekuatan dan kelemahan anggota tim Anda, dan pelajari cara memotivasi dan memandu mereka.


7.Pengembangan Komunikasi:

    Tingkatkan keterampilan komunikasi, termasuk mendengarkan aktif dan memberikan arahan dengan jelas.


8.Kepemimpinan Sebagai Contoh:

    Tunjukkan integritas dan dedikasi dalam tindakan Anda sehingga orang lain dapat mengikuti.



Selalu terbuka untuk belajar dan terus mengasah keterampilan kepemimpinan Anda seiring berjalannya waktu.


Sabtu, 30 Desember 2023

Dinamika Kelompok dan Kerja Tim

Nama                                    : Amanda Tiara Prameswari

Nim                                       : 236120900050

Dosen Pengampu                 : Bpk.Tofan Tri Nugroho,S.E.,M.M.

Prodi                                     : Bisnis Digital

Fakultas                               : Bisnis,Hukum dan Ilmu Sosial

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo



DINAMIKA KELOMPOK DAN TIM

Pengertian Kelompok dan Tim

Pengertian Kelompok

Kelompok adalah dua individu atau lebih, berinteraksi dan saling bergantung, yang bersatu untuk mencapai tujuan tertentu.

Kelompok kerja didefinisikan interaksi terutama untuk berbagi informasi dan membuat keputusan untuk membantu setiap anggota bekerja dalam bidang tanggung jawabnya masing-masing.

 Pengertian Tim

Tim adalah interaksi untuk mencapai tujuan tertentu dengan koordinasi.

Tim kerja didefinisikan interaksi dalam bagian kelompok kerja yang dibangun untuk memilih tujuan(simbiosis)dalam interaksi anggotanya.


Jenis - Jenis Tim

Tim Pemecah Masalah

    Tim pemecahan masalah adalah sebuah tim karyawan dari departemen yang sama dan bertemu sesuai agenda tertentu untuk membahas cara meningkatkan kualitas, efisiensi dan lingkungan kerja. Tim ini tidak punya wewenang untuk menerapkan saran secara sepihak, namun rekomendasi yang diberikan dapat dipadukan dengan proses implementasi sehingga perbaikan signifikan dapat diwujudkan.

 Tim Dikelola Sendiri

    Adalah tim yang dikelola sendiri, dimana secara mandiri memutuskan bagaimana memecahkan masalah yang muncul dan berbagi apa yang telah mereka pelajari dari pengalaman mereka dengan tim lainnya.

Tim Lintas Fungsi

Adalah tim yang terdiri dari karyawan yang tingkat hierarkinya sama tetapi dari area kerja berbeda untuk berkumpul menyelesaikan masalah.

Tim lintas fungsi juga dapat menjadi lebih sukses dengan :

1.Membangun pemimpin yang akuntabel dan bertanggung jawab mulai dari pembentukan tim hingga pembubarannya.

2.Memastikan bahwa setiap tim telah menetapkan tujuan, sumber daya, dan tenggat waktu.

3.Menetapkan misi yang jelas untuk tim yang bertindak sebagai tujuan utama mereka.

4.Terus mengevaluasi kembali tim dan kemajuannya menuju kesuksesan.

5.Mempertimbangkan kembali kegunaan tim jika tidak berhasil.

Tim Virtual

    Tim virtual menggunakan teknologi untuk menyatukan anggota yang tersebar secara fisik untuk mencapai tujuan bersama. Para anggota berkolaborasi secara online menggunakan jaringan (misalnya, melalui intranet perusahaan), media sosial perusahaan, konferensi video, email, dan aplikasi pesan—baik anggotanya berada di dekatnya atau terpisah dari benua lain.

Sistem Multitim

    Dianggap sistem multitim, terdiri dari kumpulan dua atau lebih tim yang saling bergantung dan berbagi tujuan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, sistem multitim adalah “tim dari tim”.


Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kerja Kelompok

1. Kemampuan Anggota

    Kinerja tim sebagian bergantung pada pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan masing-masing anggota.Kemampuan menetapkan batasan pada apa yang dapat dilakukan anggota dan seberapa efektif kinerja mereka dalam tim.

    Penelitian menunjukkan bahwa sejumlah kelompok kemampuan berguna untuk menjadi anggota tim yang efektif, yaitu resolusi konflik, pemecahan masalah kolaboratif, komunikasi, penetapan tujuan, dan kemampuan/keterampilan perencanaan.Secara umum, meskipun lemah terkait dengan kinerja tim, latar belakang yang saling melengkapi (misalnya tingkat pendidikan, bidang keahlian, dan kemampuan) juga cenderung lebih kuat terkait dengan inovasi dan kreativitas dalam praktik.

2. Kepribadian Anggota

    Tim yang lebih menyenangkan cenderung berkinerja lebih baik. Tingkat kesesuaian anggota tim juga penting: Tim menjadi lebih buruk dan kurang kohesif ketika mereka memiliki anggota yang tidak menyenangkan, dan rentang tingkat kesesuaian individu yang luas dapat menurunkan produktivitas. Anggota tim terbuka bersedia untuk berbagi lebih banyak ide satu sama lain, yang membuat tim yang terdiri dari orang-orang terbuka menjadi lebih kreatif dan inovatif. Tim yang dihadapkan pada konflik tugas kemungkinan besar akan bekerja lebih baik bila mereka terdiri dari anggota dengan tingkat stabilitas emosional yang tinggi.

3. Alokasi Peran

    Peran tim mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda, dan anggota harus dipilih untuk memastikan bahwa semua peran telah terisi.

4. Keberagaman Anggota

    Tetapi bagaimanakah keberagaman tim mempengaruhi kinerja tim? Sejauh mana anggota suatu unit kerja (kelompok, tim, atau departemen) memiliki atribut demografis yang sama, seperti usia, identitas gender, ras, tingkat pendidikan, atau masa kerja organisasi, merupakan subjek dari demografi. 

    Demografi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan tingkat keragaman dalam kelompok dan tim dan menyarankan bahwa atribut seperti usia atau tanggal bergabung harus menjadi hal yang penting bagi organisasi, seperti dalam prediksi konflik.

5. Perbedaan budaya

    Secara umum, keragaman budaya tampaknya menjadi aset untuk tugas-tugas yang memerlukan beragam sudut pandang. Namun tim yang secara budaya heterogen memiliki lebih banyak kesulitan dalam belajar bekerja sama dan memecahkan masalah. Kabar baiknya adalah kesulitan-kesulitan ini tampaknya akan hilang seiring berjalannya waktu.

6. Ukuran Tim

    Ketika tim mempunyai anggota berlebih, kekompakan dan akuntabilitas timbal balik menurun, kemalasan sosial meningkat, dan orang-orang kurang berkomunikasi. 

    Anggota tim besar mengalami kesulitan berkoordinasi satu sama lain, terutama di bawah tekanan waktu. Ketika unit kerja alami lebih besar dan Anda menginginkan upaya tim, pertimbangkan untuk membagi kelompok menjadi beberapa subtim.

7. Preferensi Anggota

    Tidak semua karyawan bekerja dengan baik dalam tim. Jika diberi pilihan, banyak karyawan akan memilih sendiri keluar partisipasi tim. Ketika orang-orang yang lebih suka bekerja sendiri diminta untuk bekerja sama, terdapat ancaman langsung terhadap moral tim dan kepuasan individu anggota.

    Hal ini menunjukkan bahwa, ketika memilih anggota tim, manajer harus mempertimbangkan preferensi individu serta kemampuan, kepribadian, dan keterampilan. 

    Tim berkinerja tinggi cenderung terdiri dari orang-orang yang lebih suka bekerja sebagai bagian dari kelompok


Meningkatkan Efektivitas Kerja Tim

    Kategori terakhir yang berkaitan dengan efektivitas tim mencakup proses (misalnya,prosedur, aktivitas, dan perilaku) dan keadaan tim (misalnya, keadaan emosi, sikap, atau motivasi kolektif) seperti komitmen anggota terhadap suatu tindakan.

    Rencana dan tujuan bersama, motivasi, kemanjuran tim, identitas tim, kohesi tim, model mental, konflik, kemalasan sosial,dan mempercayai. 

    Karakteristik ini cenderung menjadi prediktor yang sangat baik terhadap kinerja tim dan sikap anggota tim. Mereka sangat penting dalam tim yang lebih besar dan tim yang sangat saling bergantung.

Proses Tim

    Mengapa proses penting bagi efektivitas tim? Tim harus menghasilkan keluaran yang lebih besar daripada jumlah masukannya. Mengilustrasikan bagaimana proses kelompok dapat berdampak pada efektivitas kelompok.

Rencana dan Tujuan

     BersamaTim yang efektif dimulai dengan menganalisis misi tim, mengembangkan tujuan untuk mencapai misi tersebut, dan menciptakan strategi untukmencapai tujuan.

    Tim yang secara konsisten berkinerja lebih baik memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang perlu dilakukan dan bagaimana caranya.Ini terdengar jelas, namun banyak tim mengabaikan proses mendasar ini.

 Pertunjukan tim yang efektif refleksivitas, artinya mereka merenungkan dan menyesuaikan tujuannya bila diperlukan.